Transplantasi Ginjal

Jumat, 06 April 2012

0 komentar


          Nih buat tambah2 ilmu tentang hal-hal yang menyangkut kerja dari ginjal sebagai sistem eksresi. semoga bermanfaat ^O^..

          Transplantasi ginjal atau sering dinamakan cangkok ginjal mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tapi bagi orang awam, mereka hanya mengenal nama saja. Tanpa mengetahui bagaimana sebenarnya transplantasi/cangkok ginjal itu. So mari kita sama-sama belajar bagaimana sebenarnya cangkok ginjal ini.

          Transplantasi ginjal atau cangkok ginjal adalah suatu prosedur operasi yang dilakukan untuk mengganti ginjal yang rusak atau penyakit dengan ginjal yang sehat milik orang lain. Ginjal sehat tersebut dapat berasal dari donor yang sudah meninggal, atau dari donor hidup. Donor hidup dapat mendonorkan satu ginjal mereka dan tetap hidup sehat dengan satu ginjal mereka tersisa. Seseorang umumnya hanya membutuhkan trasnplantasi satu ginjal saja. Namun, pada beberapa kasus yang terjadi, orang tersebut mungkin membutuhkan transplantasi dua ginjal yang berasal dari donor yang telah meninggal. Donor sebaiknya berasal dari anggota penerima transplan, atau dari seseorang yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengan penerima transplan, namum orangnya memiliki kecocokan dengan tubuh penerima transplan, sedangkan ginjal hasil transplantasi ditanam di abdomenbagian bawah dari bagian depan tubuh penerima trasnplan.

          Transplantasi ginjal direkomendasikan bagi seorang yang mengalami disfungsi ginjal yang parah dan tidak akan dapat bertahan hidup tanpa dialisis (pencucian darah) atau trasnplantasi. Beberapa penyakit yang membutuhkan transplantasi ginjal adalah sindrom Alport, penyakit Berger, sindrom hemolitik uremik, Wegener granulomatosis, dan kerusakan uroteropelvic junction.
          Sebelum seseorang ditetapkan untuk melakukan transplantasi ginjal, orang tersebut akan menjalani serangkaian tes darah dan tes diagnostik. Tes darah berguna untuk mendapatkan informasi yang akan membantu menentukan seberap perlunya transplantasi segera dilakukan. Selain itu, tes tersebut untuk meyakinkan organ donor yang didapat memiliki kecocokan dengan tubuh penerimanya sehingga tubuh si penerima trasnplantasi tidak menolak organ tersebut. Tes diagnostik berguna untuk memahami kondisi tubuh penerima transplan secara keseluruhan sehingga mengurangi resiko terjadinya komplikasi saat dilakukan operasi trasnplantasi.
          Organ donor mungkin saja mengalami penolakan oleh tubuh peneriman transplan akibat adanya reaksi imun tubuh. Ketika organ ginjal dari donor ditanamkan pada tubuh seseorang , tubuhnya akan menganggap organ tersebut sebagai ancaman atau benda asing dan berusaha menyerangnya melalui pembentukan antibodi yang dapat membunuh sel-sel jaringan organ tersebut. Oleh karena itu, agar organ dapat ditransplantasi dengan sukses diperlukan beberapa obat untuk menekan sistem imun penerima transplan sehingga dapat menerima organ tersebut. Pengobatan umumnya perlu diberikan seumur hidup penerima transplan menerima organ baru. Beberapa contoh obat yang umum digunakan adalah cyclosporine, tacrolimus, azathiopreni, dan mycophenolate mofetil.

Sumber : http//:www.healtsystem,virginia.edu/uvahealth/adult_urology/trans.cfm 

Gangguan Ginjal

0 komentar

       Ginjal manusia merupakan alat utama eksresi, sehingga jika ada gangguan ginjal tentu akan menganggu sistem eksresi. Luka berat, banyak kehilangan darah, keracunan zat-zat tertentu, dan penyakit tertentu dapat menimbulkan terganggunya fungsi ginjal, terutama terganggunya pembentukan urin. Beberapa kelainan atau gangguan tersebut antara lain sebagai berikut
a.  Gagal Ginjal dan Uremia

Kegagalan fungsi ginjal yang akut dapat menyebabkan nefritis, pendarahan, dan fungsi ginjal terhenti secara tiba-tiba. Gejala yang umum adalah tidak terjadi pembentukan urin yang die=sebut anuria. Gejala ini berbahaya karena dapat menimbulkan uremia. Uremia yaitu terbawahnya urin ke dalam aliran darah yang disebabkan adanya kebocoran disalah satu saluran dalam nefron. Akibat dari keadaan tersebut, penyerapan air oleh darah akan terganggu, sehingga terjadi penimbunan air pada kaki dan timbul bengkak (edema), demikian pula pada organ tubuh yang lain.
b.  Nefritis

          Nefritis adalah peradangan pada nedron karena bakteri Streptococcus yang masuk melalui saluran pernafasan. Dari saluran pernapasan, bakteri terbawa oleh darah ke ginjal. Akibat adanya peradangan, protein yang masuk bersama urin primer tidak dapat disaring, sehingga akan ikut keluar bersama urin. Nefritis kronis biasanya terjadi pada orang lanjut usia yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, pengerasan pembuluh darah dalam ginjal, dan rusaknya glomelurus atau tubulus.
c.  Diabetes Insipidus
          Diabetes insipidus adalah suatu penyakit kelenjar hipofisi gagal mensekresikan hormone antideuritik, sehingga eksresi urin meningkat. Pada umumnya urin yang dieksresikan berjumlah antara 4-6 liter setiap hari , tetapi  dapat mencapai 12-15 liter      setiap hari, tergantung dari jumlah air yang diminum. Penderita diabetes insipidus cenderung mengalami dehidrasi dan Pengeluaran elektrolit dari cairan tubuh. Akan tetapi, kecenderungan ini diimbangi oelh perasaan ingin minum dan ingin makan makanan yang lebih banyak mengandung garam. Penyakit ini umumnya ditimbulkan oleh tumor di hipootalamus atau hipofisis yang mengakibatkan rusaknya bagian hipotalamus yang mengatur sekresi hormone antodeuritik.
d.   Diabetes Melitus
          Diabetes mellitus atau dikenal dengan kencing manis, yaitu terdapatnya glukosa dalam urin yaitu menurunnya hormone insulin yang dihasilkan di kelanjar pancreas. Menurunnya hormon insulin menyebabkan terganggunya proses perombakan glikogen menjadi glukosa dan reabsorbsi glukosa dalam glomelurus.
e.  Albuminaria
          Albuminaria yaitu terdapatnya molekul albumin dan protein lain di dalam urin. Albuminaria disebabkan terjadinya kerusakan pada alat filtrasi pada ginjal sehingga protein dapat lolos pada proses filtrasi.
f.  Kencing Batu

        Kencing batu atau batu ginjal yaitu terbetuknya butiran-butiran dari senyawa kalsium dan penimbunan asam urat, sehingga CaCO3 (kalsium Karbonat) pada ginjal atau saluran urin yang dapat menyebabkan kesulitan pengeluaran urin. Kencing batu dapat terjadi karena faktor hormone (yang dihasilkan kelenjar anak gondok) paratiroid dan jika seseorang kurang minum atau sering menahan buang air kecil.

Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Urin

0 komentar

      Proses pembentukan urin dipengaruhi oleh dua faktor  yaitu faktor internal yang menyangkut hormone(antideuritik dan insulin) dan faktor eksternal yang menyangkut jumlah air yang diminum.

A.   Faktor Internal
1)  Hormon Antideuritik (ADH)
   Hormone antideuritik dikeluarkan oleh kelenjar saraf hipofifis (neuroehipofisis). Pengeluaran hormone ini ditentukan oleh reseptor khusus di dalam otak yang secara terus menerus mengendalikan tekananan osmotic darah (kesetimbangan konsentrasi air dalam darah). Oleh karena itu, hormone ini akan mempengaruhi proses reabsorbsi  air pada tubulus  kontortus distal, sehingga permeabilitas sel terhadap air akan meningkat. Oleh karana cara bekerja dan pengaruhnya inilah, hormone tersebut dsiebut sebagai hormone antideuritik.


   Jika tekanan osmotic darah naik, yaitu pada saat dalam keadaan dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh (saat kehausan atau banyak mengeluarkan keringat), konsentrasi air dalam darah akan turun. Akibat dari kondisi tersebut, sekresi ADH meningkat dan dialirkan oleh darah menuju ke ginjal. ADH selain meningkatkan permeabilitas sel terhadap air, juga mengkatkan permeabilitas saluran pengumpul, sehingga memperbesar sel saluran pengumpul. Dengan demikian air akan berdifusi ke luar dari pipa pengumpul, lalu masuk ke dalam darah. Keadaan tersebut akan berusaha memulikan konsentrasi air dalam darah. Namun, berusaha memulihkan konsentrasi air dalam darah. Namun akibatnya, urin yang dihasilkan menjadi sedikit dan lebih pekat.
2)  Hormon Insulin
   Hormone insulin adalah hormone yang dikeluarkan oleh pulau langerhans dalam pancreas. Hormone insulin berfaungsi mengatur gula dalam darah. Penderita kencing manis (diabetes mellitus) memiliki konsentrasi hormone insulin yang rendah, sehingga kadar gula dalam darah akan tinggi. Akibatnya terjadi gangguan reabsorbsi didalam  urin masih terdapat glukosa.

B.  Faktor Eksternal
1)  Jumlah Air yang Diminum

   Jumlah air yang diminum tentu akan mempengaruhi konsentrasi air dalam darah. Jika kita meminum banyak air, konsentrasi air dalam darah akan tinggi, dan kosentrasi protein dalam darah menurun, sehingga filtrasi menjadi berkurang. Selain itu, keadaan seperti ini menyebabka darah lebih encer, sehingga sekresi ADH akan berkurang. Menurunnya filtrasi dan berkurangnya ADH akan ,emyebabkan menurunnya penyerapan air, sehingga urin yang dihasilkan akan meningkat dan encer.
2)  Suhu Lingkungan

   Ketika suhu sekitar dingin, maka tubuh akan berusaha untuk menjaga suhunya dengan mengurangi jumlah darah yang mengalir ke kulit sehingga darah akan lebih banyak yang menuju organ tubuh, di antaranya ginjal. Apabila darah yang menuju ginjal jumlahnya samakin banyak, maka pengeluaran air kencing pun banyak.
3)  Gejolak Emosi dan Stress

Jika seseorang mengalami stress, biasanya tekanan darahnya akan meningkat sehingga banyak darah yang menuju ginjal. Selain itu, pada saat orang berada dalam kondisi emosi, maka kandung kemih akan berkontraksi. Dengan demikian, maka timbullah hasrat ingin buang air kecil.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Diberdayakan oleh Blogger.